Back to Browse

Campursari Candi Cetho

1.2K views
Apr 9, 2026
5:05

Candi Ceto (hanacaraka: ꦕꦼꦛ, ejaan bahasa Jawa latin: cethå) dibangun sekitar tahun 1451- 1470 pada zaman Kerajaan Majapahit ketika pengaruh Hindu di Jawa mulai pudar dan unsur Indonesia asli dari tradisi prasejarah mulai hidup lagi. Ciri khas seni arca pada masa itu dibuat berukuran besar tetapi pemahatannya lebih sederhana, contoh jelas adalah arca Bima yang ada di halaman pertama. Dari sisi arsitektur gaya bangunan masa itu menyerupai punden berundak yang berkembang di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, Jawa Timur. Nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti 'jelas', digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas melihat ke berbagai arah. Ke arah utara terlihat pemandangan Karanganyar dan Kota Solo dengan latar belakang Gunung Merbabu, Merapi, dan Gunung Sumbing. Ke arah barat dan timur terlihat bukit-bukit hijau membentang, sedangkan ke arah selatan terlihat punggung dan gugusan anak Gunung Lawu. Pada masa itu Kerajaan Majapahit sedang. mengalami proses keruntuhan dengan memuncaknya kekacauan sosial, politik, budaya dan bahkan tata keagamaan sebelum akhirnya mengalami keruntuhan total pada tahun 1519 M (Djafar, 2012: 136). Situs Candi Cetho mempunyai kaitan erat dengan Situs Candi Sukuh yang letaknya di dataran yang lebih rendah dan dengan jarak yang relatif berdekatan. Sama halnya dengan Situs Candi Sukuh yang dibangun pada abad 1439 Masehi yang mempunyai hubungan dengan ritual upacara ruwatan, Bernet Kempers (1959:101) dalam Ancient Indonesian Art berpendapat bahwa Situs Candi Cetho sejak awal didirikan merupakan situs suci yang berhubungan dengan penghormatan arwah-arwah leluhur yang pada paruh pertama abad XV diubah menjadi sebuah monumen yang mengandung unsur- unsur dari kebudayaan Hindu-Jawa dengan karakter lokal dengan sarana pembebasan arwah leluhur dari semua ikatan duniawi. Situs Candi Cetho ini pertama kali dilaporkan oleh Van De Vlis pada tahun 1451-1470. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala karena unsur nilai kepurbakalaannya, seperti W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Dharmosoetopo. Pada tahun 1928 Dinas Purbakala mengadakan penelitian dalam rangka pemugaran, dari penelitian ini tidak diperoleh cukup bukti untuk merekonstruksi bangunan batu yang berada di di puncak bukit. Pada tahun 1975-1976, Inspektur Jenderal Pembangunan (Irjenbang), Sudjono Hoemardhani melakukan pemugaran situs menjadi seperti yang terlihat sekarang ini. Sangat disayangkan bahwa pemugaran atau lebih tepatnya disebut pembangunan kembali tersebut dilakukan tanpa memperhatikan aspek arkeologis, sehingga sehingga keaslian bentuknya tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Penambahan- penambahan baru antara lain sejumlah pondasi dengan bangunan-bangunan kayu mirip seperti halnya bangunan- bangunan pura di Bali. Bentuk bangunan dibuat seperti Situs Candi Sukuh dan ini merupakan hasil pemugaran pada akhir tahun 1970-an bersama-sama dengan bangunan-bangunan pendopo dari kayu. Saat ini, Candi Ceto berada di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. #viral #viralvideo #viralshorts #viralyoutubeshorts #viralyoutube #shorts #shortsvideo #shortsyoutube #shortsfeed #fyp #fypyoutube #fypshorts #lagu #lagujawa #campursari #popjawacampursari #didikempot #rinairiani #bupatikaranganyar #candicetho #gununglawu #cagarbudaya #kementriankebudayaan #kebudayaanjawa #senibudaya #gumeng #jenawi #kabupatenkaranganyar #karanganyartentram

Download

0 formats

No download links available.

Campursari Candi Cetho | NatokHD