Back to Browse

Langit Pagi Cibinong

13 views
Jan 7, 2026
4:37

Embun masih menggantung di ujung daun pisang di halaman rumah kontrakan kecil itu. Di balik tembok yang mulai pudar warnanya, aroma nasi goreng buatan Marwah menyebar ke seluruh ruangan. Dapur mereka sempit, tapi suasananya selalu hidup setiap pagi. “Rari, bangun. Nasi gorengnya udah mau dingin,” panggil Marwah lembut sambil menata dua piring di meja makan kecil yang hanya cukup untuk berdua. Ferrari, suaminya, keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan langkah malas. Matanya masih berat setelah semalam tak bisa tidur memikirkan banyak hal—terutama soal pekerjaan. Ia baru saja diberhentikan dari pabrik tempatnya bekerja tiga tahun terakhir. Bukan karena kesalahan, tapi karena pemangkasan karyawan. Gajinya yang tak seberapa kini terhenti sama sekali. “Udah jam berapa, Mar?” “Baru jam enam. Kamu mau cari lowongan lagi hari ini?” Ferrari hanya mengangguk sambil menatap nasi goreng di hadapannya. Ia makan perlahan, seakan tak punya tenaga untuk berbicara. Di luar, suara motor dan klakson mulai ramai. Pagi di Cibinong selalu sibuk—orang-orang bergegas ke pasar, ke sekolah, ke kantor. Tapi bagi Ferrari, pagi itu terasa sunyi. Ia merasa tertinggal dari semuanya. Marwah menatap suaminya dengan pandangan lembut. Ia tahu Ferrari sedang berjuang menelan rasa kecewa dan malu. Namun di dalam hatinya, ia yakin badai ini tak akan lama. “Rari,” ujar Marwah pelan, “kalau hari ini belum dapat kerja, nggak apa-apa. Mungkin waktunya kita mikir cara lain buat nyari rezeki.” Ferrari menatap istrinya heran. “Maksudmu?” “Ya, siapa tahu kita bisa jualan. Di depan rumah banyak yang lewat. Orang-orang sini kan suka yang segar-segar. Mungkin kita bisa mulai dari situ.” Ferrari tersenyum tipis. “Jualan? Jualan apa, Mar? Modal aja nggak punya.” “Bukan nggak punya. Masih ada tabungan sedikit dari sisa uangmu. Lagian, kalau niatnya baik, InsyaAllah ada jalan.” Ferrari terdiam. Kata-kata istrinya menenangkan sekaligus menggugah. Di luar, matahari mulai naik perlahan, memantulkan cahaya ke kaca jendela yang buram. Mungkin benar, pikirnya. Mungkin memang sudah waktunya berhenti mencari pintu yang tertutup, dan mulai membuat pintu sendiri. Ia menatap wajah Marwah yang tersenyum penuh keyakinan. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya yakin — bahwa selama mereka berdua saling percaya, mereka tak akan kalah oleh keadaan. “Baiklah,” kata Ferrari akhirnya, menghela napas panjang. “Kita mulai aja, Mar. Sekecil apa pun.” Marwah tersenyum lega. “Mulai dari segelas teh manis dulu juga nggak apa-apa. Yang penting, niatnya manis.” Ferrari terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, tawa kembali terdengar di rumah kontrakan kecil mereka. Langit pagi di Cibinong tampak lebih cerah dari biasanya. Seolah ikut menyambut langkah awal dua insan yang akan memulai perjalanan besar dari sesuatu yang sederhana — segelas teh dan segenggam harapan.

Download

0 formats

No download links available.

Langit Pagi Cibinong | NatokHD