Hudoq Bora
Menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Dayak yang bernama Dayak Usun Apau sedang menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan tenteram dan seperti masyarakat Dayak pada umumnya. Ada yang menjala ikan, menganyam kain, menampi beras, membawa hasil bumi, hingga akti tas makan sirih. Semua tampak tenang, sampai saat wabah penyakit mematikan menerpa pedesaan tersebut. Wabah itu dipercaya muncul karena ada seseorang atau kelompok di dalam desa tersebut telah melakukan pelanggaran yang sakral, hingga membuat sang Roh/Dewata yang bernama Apau Bezu murka. Lalu sang Roh/Dewata yang murka segera menurunkan tulah mematikan ke pedesaan tersebut sebagai bentuk hukuman. Kemudian para dazung [dukun] desa tersebut berinisiatif untuk meminta pengampunan dengan melakukan ritual terlarang. Ritual tersebut disebut-sebut sebagai ritual sekali pakai. Karena ketika dazung [dukun] melaksanakan ritual tersebut, permintaan ampun belum tentu diterima, tetapi nyawa mereka, sudah pasti ditetapkan oleh sang Roh/Dewata Apau Bezu sebagai gantinya. Dalam bahasa Uma Lung, Ritual itu dikenal dengan ritual Muo Tavhe atau ritual keputusasaan. Berikut makna secara visual dari tarian ini: BETIK MENTEM / TATO HITAM dari lengan hingga jari, memperlihatkan status sosial. Semakin banyak dan semakin gelap tato tersebut, maka ia dihormati sebagai seorang dazung [dukun]. SAUNG BORA / SERAUNG dengan kain putih, wajah ditutup agar Roh yang turun tidak menduplikasi wajah sang dazung [dukun] lalu disalahgunakan sebagai orang lain.
Download
0 formatsNo download links available.